Bagaimana membaca karya sastra yang panjang dapat menjadi sarana melatih konsentrasi dan merawat empati manusia.
Di era di mana informasi disuguhkan dalam hitungan detik melalui video pendek dan utas media sosial, kemampuan kita untuk duduk tenang dan membaca 300 halaman novel sastra sedang diuji. Membaca karya sastra bukan sekadar kegiatan mengonsumsi kata-kata, melainkan sebuah percakapan intim dengan kesadaran manusia lain.
Ketika kita membaca karya seperti tulisan Pramoedya Ananta Toer atau Mochtar Lubis, kita tidak hanya menyerap plot; kita belajar menyelami kompleksitas emosi, konteks historis, dan pergulatan moral tokoh-tokohnya.
Frasa Klausa Media meyakini bahwa sastra adalah salah satu medium terbaik untuk merawat kepekaan jiwa. Mari kembali meluangkan waktu bersama buku favorit Anda setiap pagi atau sebelum terlelap.